Kesiapan Manusia Indonesia Berakulturasi dengan Budaya Internet
Internet telah menjadi salah satu sarana untuk berinteraksi dengan orang lain. Saking banyaknya interaksi di internet menyebabkan terciptanya budaya baru yang disebut sebagai Budaya Internet. Budaya Internet merupakan budaya yang cukup fleksibel sehingga dapat dengan mudah berakulturasi dengan budaya setempat.
Di Indonesia, Budaya Internet sudah mulai berakulturasi dengan Budaya Indonesia. Akulturasi Budaya ini memiliki banyak dampak baik positif maupun negatif, akan tetapi karena ketidaksiapan Manusia Indonesia dalam menghadapi Budaya Internet berakibat pada banyaknya dampak negatif dari Akulturasi Budaya Internet-Indonesia.
Salah satu bukti dari ketidaksiapan Manusia Indonesia yang terjadi baru-baru ini adalah hujatan yang ditujukan kepada Reemar Martin (Influencer asal Fillipina) yang disebabkan oleh kecemburuan kekasih perempuan yang pasangannya mengidolakan Reemar Martin. Bukti tersebut merupakan contoh dari salah satu sifat Masyarakat Indonesia menurut Mochtar Lubis dalam buku Manusia Indonesia (1977).
Berdasarkan sejarah yang ada, Manusia Indonesia sendiri sudah mengalami 2 kali akulturasi budaya yaitu Akulturasi Hindu Budha-Nusantara dan Islam-Nusantara. Pada masa Hindu Budha-Nusantara, Manusia Indonesia yang meyakini ajaran animisme dan dinamisme terkagum oleh ajaran Hindu/Budha yang memiliki sistem yang lebih baru seperti sistem kasta dan kerajaan. Ajaran ini juga tidak memaksa penduduk meninggalkan ajaran Animisme dan Dinamisme sehingga ajaran ini mudah diterima.
Berbeda dengan Akulturasi Hindu Budha, Akulturasi Islam-Nusantara mudah diterima karena bisa memperbarui serta memperkaya kebudayaan yang telah ada, salah satunya adalah melalui pewayangan yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga dengan cerita seperti 4 Punakawan, diperbaruinya tokoh-tokoh pewayangan yang sudah ada (contoh : Yudhistira dengan Jimat Kalimasada) dengan suasana yang lebih islami. Selain pewayangan terdapat juga kebudayaan lain seperti kesenian, karya sastra, kaligrafi, dan lain-lain.
Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa Manusia Indonesia memang terbiasa untuk menyukai hal-hal baru, padahal dalam Budaya Internet ada banyak hal baru yang menyesuaikan dengan trending pada waktu tersebut serta platform yang digunakan. Ini menyebabkan banyaknya hal yang bisa masuk dalam kebudayaan Indonesia dan jika tanpa penyaringan yang baik, maka hal-hal yang bisa masuk ke kebudayaan Indonesia akan menjadi tak terhindarkan.
Kita coba untuk mengambil lagi salah satu sifat Manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis, yaitu berjiwa Feodal (Yang lebih besar harus dihormati yang lebih kecil) yang tidak hanya ada di dunia pemerintahan tapi juga ada di berbagai platform sosial media. Sebagai contoh Feodalisme ini beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah akun instagram dengan 2.258 pengiut yang tidak mau dikritik oleh akun lain yang tidak memiliki pengikut, ini juga dapat menjadi indikator seberapa sempitnya pemikiran Manusia Indonesia.
Feodalisme dalam berinternet inilah yang membuat Manusia Indonesia tidak terbuka terhadap kritikan sehingga menybabkan Manusia Indonesia jadi kurang mampu dalam berkembang.
Walaupun Manusia Indonesia terlihat belum siap, akan tetapi Manusia Indonesia juga memiliki beberapa kelebihan seperti kemampuan bergaul yang tinggi, tegas, dan mudah mempelajari sesuatu sehingga Manusia Indonesia layak untuk menerima Budaya Internet. Jadi, apakah Manusia Indonesia siap untuk menerima Budaya Internet? Tidak ada salahnya untuk kita mencoba.
Di Indonesia, Budaya Internet sudah mulai berakulturasi dengan Budaya Indonesia. Akulturasi Budaya ini memiliki banyak dampak baik positif maupun negatif, akan tetapi karena ketidaksiapan Manusia Indonesia dalam menghadapi Budaya Internet berakibat pada banyaknya dampak negatif dari Akulturasi Budaya Internet-Indonesia.
Salah satu bukti dari ketidaksiapan Manusia Indonesia yang terjadi baru-baru ini adalah hujatan yang ditujukan kepada Reemar Martin (Influencer asal Fillipina) yang disebabkan oleh kecemburuan kekasih perempuan yang pasangannya mengidolakan Reemar Martin. Bukti tersebut merupakan contoh dari salah satu sifat Masyarakat Indonesia menurut Mochtar Lubis dalam buku Manusia Indonesia (1977).
Berdasarkan sejarah yang ada, Manusia Indonesia sendiri sudah mengalami 2 kali akulturasi budaya yaitu Akulturasi Hindu Budha-Nusantara dan Islam-Nusantara. Pada masa Hindu Budha-Nusantara, Manusia Indonesia yang meyakini ajaran animisme dan dinamisme terkagum oleh ajaran Hindu/Budha yang memiliki sistem yang lebih baru seperti sistem kasta dan kerajaan. Ajaran ini juga tidak memaksa penduduk meninggalkan ajaran Animisme dan Dinamisme sehingga ajaran ini mudah diterima.
Berbeda dengan Akulturasi Hindu Budha, Akulturasi Islam-Nusantara mudah diterima karena bisa memperbarui serta memperkaya kebudayaan yang telah ada, salah satunya adalah melalui pewayangan yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga dengan cerita seperti 4 Punakawan, diperbaruinya tokoh-tokoh pewayangan yang sudah ada (contoh : Yudhistira dengan Jimat Kalimasada) dengan suasana yang lebih islami. Selain pewayangan terdapat juga kebudayaan lain seperti kesenian, karya sastra, kaligrafi, dan lain-lain.
Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa Manusia Indonesia memang terbiasa untuk menyukai hal-hal baru, padahal dalam Budaya Internet ada banyak hal baru yang menyesuaikan dengan trending pada waktu tersebut serta platform yang digunakan. Ini menyebabkan banyaknya hal yang bisa masuk dalam kebudayaan Indonesia dan jika tanpa penyaringan yang baik, maka hal-hal yang bisa masuk ke kebudayaan Indonesia akan menjadi tak terhindarkan.
Kita coba untuk mengambil lagi salah satu sifat Manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis, yaitu berjiwa Feodal (Yang lebih besar harus dihormati yang lebih kecil) yang tidak hanya ada di dunia pemerintahan tapi juga ada di berbagai platform sosial media. Sebagai contoh Feodalisme ini beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah akun instagram dengan 2.258 pengiut yang tidak mau dikritik oleh akun lain yang tidak memiliki pengikut, ini juga dapat menjadi indikator seberapa sempitnya pemikiran Manusia Indonesia.
Feodalisme dalam berinternet inilah yang membuat Manusia Indonesia tidak terbuka terhadap kritikan sehingga menybabkan Manusia Indonesia jadi kurang mampu dalam berkembang.
Walaupun Manusia Indonesia terlihat belum siap, akan tetapi Manusia Indonesia juga memiliki beberapa kelebihan seperti kemampuan bergaul yang tinggi, tegas, dan mudah mempelajari sesuatu sehingga Manusia Indonesia layak untuk menerima Budaya Internet. Jadi, apakah Manusia Indonesia siap untuk menerima Budaya Internet? Tidak ada salahnya untuk kita mencoba.
Comments
Post a Comment